Sosok manusia yang memiliki kesempurnaan dari Allah yaitu Rasulullah. Banyak hal yang dapat kita pelajari dan tiru dari Rasulullah. Bagaimana kita bisa merasakan cinta yang luar biasa kepada Allah SWT, salah satunya adalah dengan meneladani Rasulullah. Di jaman yang serba mudah ini, banyak hal yang membuat kita lari dari cinta kepada Allah karena kita terlalu sibuk mengurus dunia, sehingga kita lupa untuk tujuan kita hidup di dunia ini, padahal Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada Allah. Lalu bagaimana kita bisa memulai untuk merasakan cinta luar biasa kepada Allah SWT?

Kita tidak akan bisa untuk mencapai kesempurnaan Allah SWT. Karena Allah bukanlah makhluk. Tapi kita bisa melihat sosok manusia yang diberi kesempurnaan oleh Allah, yaitu Rasulullah. Bermodalkan suka, cinta, dan bonding kepada Rasul, kita bisa meneladani akhlak, ihsan, hikmah, dan kejujuran beliau. Salah satu contoh yang dapat kita pelajari adalah proses hijrahnya Rasulullah. Masa kegelapan yang Rasulullah alami adalah ketika beliau menyaksikan kehancuran akhlak, moral, dan kemanusiaan masyarakat Mekkah di zaman jahiliyah. Beliau ingin mengubah kondisi tersebut tapi tidak tahu harus bagaimana memulainya.

Proses hijrah Rasulullah digambarkan dalam tiga ayat pertama surah Al-Muddassir. “Ya ayyuhal muddassir, qum faandzir, wa rabbaka fakabbir”. Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu. Rasulullah merasa gelisah melihat kondisi rusak masyarakat Mekkah pada akhirnya menuntun beliau kepada Cahaya, satu-satunya sumber cahaya di langit dan di bumi, Dialah Allah SWT. Allah SWT menyerukan kepada Rasulullah untuk keluar dari zona nyaman demi memenuhi panggilan Allah untuk mengambil tanggung jawab dan berhijrah. Yang dilalui Rasulullah sepanjang periode dakwahnya bukan tanggung jawab yang ringan, tetapi Rasulullah menyempurnakan hijrahnya dengan kesabaran tanpa batas. Rasulullah membawa umat dari kegelapan menuju cahaya, menjadikan sahabat dari tidak berdaya menjadi berdaya, menghancurkan kezholiman dalam urusan ekonomi, politik dan kemanusiaan.

Jika kita berada di fase nyaman dan berusaha berjalan kepada Allah, Allah pasti akan bantu, memudahkan jalan kita menuju kepada Nya. Ketika kecintaan terhadap dunia menghalangi kecintaan kita kepada Allah, hal pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan adjustment (penyesuaian) pada diri kita: semua harus menuju Allah; baik mindset, gaya hidup, maupun perilaku sehari-hari. Kita mesti memperbanyak doa agar Allah menyingkirkan semua yang menghalangi rasa cinta kita kepada-Nya.

Siapa yang menginginkan akhirat, maka dunia sudah pasti mengikuti. Namun jika kita menghamba pada dunia, mencandu dunia, bahkan tenggelam dalam dunia, maka akhirat akan hilang. Jika pilihannya adalah dunia atau Cahaya, seharusnya kita tidak merasa kesulitan memilih karena kita sudah mempunyai komitmen “aku hijrah”.
Hijrah bukan tujuan, hijrah adalah langkah pertama kita untuk mendekat kepada Allah SWT. Perjalanan hijrah tidak ada seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari; bagaimana kegelapan dan kesulitan yang datang. Karena hijrah adalah proses berjenjang memiliki tingkatan berbeda, setiap mukmin menjalani proses hijrah sepanjang hidupnya.

Jadi, apakah kamu sudah siap berhijrah?

 

Write A Comment