Ummul Mukminin adalah sebutan bagi istri-istri Rasulullah SAW. Gelar ummul mukminin itu menegaskan, bahwa para istri Nabi Muhammad Rasulullah saw. adalah para wanita yang terpilih dan dimuliakan oleh Allah SWT. Dan karena mereka ibu orang-orang beriman, maka tidak boleh dinikahi oleh siapapun setelah Nabi saw. wafat. “Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53). Menjadi istri Nabi Muhammad SAW merupakan kemuliaan karena menjadi pendamping hidup utusan Allah sekaligus manusia sempurna di muka bumi ini. Istri-istri rasulullah mempunyai keutamaan masing-masing.

Keutamaan Khadijah:

Khadijah berasal dari keluarga bangsawan Quraisy. Khadijah dididik dengan akhlak mulia dan terhormat sebagai seorang wanita. Sehingga tumbuhlah ia dengan karakter yang kuat, cerdas, dan menjaga kehormatan. Menikah dengan Nabi Muhammad,ketika berumur 40 tahun. Khadijah adalah sosok wanita pilihan yang Allah amanahkan untuk mendampingi Muhammad dalam menjalani tugasnya sebagai Rasul Allah. Salah satu hikmah yang bisa kita petik dari kisah hidup khadijah, adalah keuletannya, kesungguhannya, kecerdasan dan ketelitiannya dalam menjalankan usaha perdagangan. Tetapi, semua usahanya itu tidaklah ia jadikan semata-mata untuk kesenangan yang bersifat keduniawian semata. Sebagaimana sabda Rasulullah, Khadijah dengan rela memberikan hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Dan hal itu, Beliau lakukan sampai ajal menjemputnya. Apa yang dilakukan oleh khadijah sangat berkaitan erat dengan makna zakat. Zakat hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki kelebihan harta yang telah memenuhi syarat dan perhitungan yang telah ditetapkan. Artinya, agar jika seseorang ingin ber-zakat, maka ia harus berusaha. Dan dari apa yang Allah berikan atas hasil usahanya itulah yang wajib ia keluarkan zakatnya. Dan bagi seorang istri yang tidak bekerja, maka ia dapat berzakat apabila ia mendapatkan nafkah yang khusus diberikan oleh suaminya. Dengan demikian, bekerja adalah termasuk dalam ibadah yang juga bernilai pahala di sisi Allah. Islam tidak menghalangi kaum wanita untuk produktif dalam mencari karunia Allah di dunia ini dengan bekerja, bahkan Islam menganjurkan agar kaum wanita tidak kalah produktifnya dengan kaum pria. Dan Allah memberikan pilihan bagi kaum wanita, apakah ia mau memilih sebagai pekerja, wanita karier, pengusaha, atau sebagai ibu rumah tangga. Semua itu sama baiknya. Selama ia menjaga kehormatannya, harga dirinya, dan taat pada aturan yang Allah tetapkan. Apapun pilihannya, Insya Allah akan bernilai pahala. Dalam kisah Siti Khadijah, Allah telah mengabadikan teladan bagi kaum wanita. Khadijah adalah wanita yang cerdas, ibu rumah tangga yang amanah, pendidik bagi anak-anaknya, pengusaha yang sukses, Istri seorang Nabi dan Rasul, dan pejuang di jalan Allah. Dan tidaklah mungkin Allah jadikan khadijah sebagai teladan jika tidak mungkin untuk di teladani, karena pada dasarnya, kaum wanita adalah kaum yang mampu melakukan semua itu.

Keutamaan Aisyah:

Ummul Mukminin Aisyah termasuk salah seorang yang telah menampakkan tanda-tanda kecerdasannya yang tinggi sejak kecil.
Wanita kekasih Rasulullah ini sungguh memiliki kelebihan yang tak tertandingi oleh wanita manapun di dunia. Sifat-sifatnya, kepribadian dan kedudukan ilmu yang dimiliki melesatkan beliau menjadi pemimpin semua wanita pada semua generasi. Kecerdasan Aisyah dengan akhlak dan etika yang mulia, zuhud, wara’, menyukai ibadah, sederhana, baik dan penuh kasih sayang kepada manusia menjadi sifat dan kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari mampu mampu mengimbangi segala sifat yang merajalela di hati. Aisyah tetap memilih hidup dengan zuhud dan qana’ah.
Di antara sifat-sifat itu, adalah sebagai berikut:

Membantu kaum perempuan. Aisyah selalu menolong setiapkali didatangi seorang perempuan dan dia juga menyampaikan masalah mereka kepada Rasulullah s.a.w.
Taat kepada suami. Aisyah selalu memfokuskan semua pekerjaannya setiap pagi dan petang untuk mentaati Rasulullah, melaksanakan perintah, menjauhi larangannya dan melaksanakan hal-hal yang menyenangkan dan membuatnya ridha.
Menjaga diri dari ghibah. Salah satu sifatnya adalah tidak mau membicarakan kejelekan orang lain. Ribuan riwayat yang bersumber dari Aisyah, tidak satupun berisikan pelecehan atau penghinaan terhadap seseorang.
Bersikap wara’ dan tidak mau menerima hadiah. Suatu ketika, Umar membawa sebuah peti berisi penuh perhiasan dari Iraq kepada Aisyah, beliau membukanya lalu berkata, “Apa yang dibukakan Ibnu Khaththab untukku setelah Rasulullah? Ya, Allah, janganlah Engkau masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang suka menerima pemberiannya.” (Mustadrak Hakim, 4/9, No. 6725)

Menghindari pujian dan sanjungan.Ibnu Abbas sering memuji Aisyah, karena hal tersebut ketika Aisyah sakit menjelang ajal Aisyah menolak kedatangannya. Atas permohonan orang-orang maka akhirnya Aisyah mengizinkan Ibnu Abbas masuk. Manakala Ibnu Abbas mulai memujinya, Aisyah berkata, “aku ingin dilupakan orang.”

Pemberani dan memiliki etos yang tinggi. Aisyah adalah sosok pemberani, kokoh, tegar dan tidak pengecut. Dia sering berjalan menuju pekuburan Baqi’ di tengah malam tanpa takut atau ragu. Pada perang Uhud Aisyah turun untuk memberi minum dan merawat orang-orang yang terluka. Pada perang Khandaq dan perang Jamal, Aisyah pun maju ke baris terdepan.
Baik dan murah hati. Aisyah mewarisi sifat yang merupakan permata mahal dalam dirinya ini dari sang ayahanda yang selalu mendidiknya dengan akhlak ini. Saudarinya Asma’ binti Abi Bakar ash-Shiddiq juga memiliki sifat yang sama.
Abdullah ibn Zubair berkata, “aku tidak pernah melihat dua orang perempuan yang lebih baik daripada Aisyah dan Asma’. Kebaikan masing-masing berbeda. Aisyah orangnya suka mengumpulkan sesuatu, dan setelah terkumpul baru,dia membagikannya. Sedangkan Asma’ tidak pernah menyimpan sesuatu sampai esok hari.”

Banyak beribadah. Aisyah sangat tekun beribadah. Waktunya penuh diisi dengan zikir dan tasbih. Shalat Dhuha, shalat malam, shalat fajar serta membaca Alquran selalu dikerjakannya. Setiap kali Aisyah membaca ayat yang mengandung ancaman, beliau berdoa kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya, dan setiap membaca ayat yang mengandung kabar gembira, beliau berdoa kepada Allah dan meminta-Nya agar dianugerahi hal itu.

Aisyah berpuasa sepanjang hari, termasuk puasa pada hari Arafah. Ketika itu beliau sedang berpuasa. Kemudian Abdurrahman berkata “berbukalah!”

Aisyah menjawab, “berbuka? Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya’.” (Musnad Ahmad, 6/128, No. 25014. Majmu’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 3/189. At-Targhib wa at-Tarthib, al-Mundziri, 2/68, No. 1518).

Menyayangi para budak dan mengasihi hamba sahaya. Budak yang dimerdekakan oleh Aisyah mencapai 67 orang. Seorang budak Barirah yang diperbantukan untuk juru tulisnya akhirnya dibeli Aisyah dan dibebaskan karena sikap budak tersebut yang tidak pernah menerima upah sepeserpun.

Membantu kaum fakir dan miskin berdasarkan kondisi masing-masing.
Kisah kedermawanan Aisyah terhadap kaum fakir tidak diragukan lagi. Sering suatu ketika Aisyah hanya memiliki sepotong roti dan ada seorang pengemis datang kepadanya, maka Aisyah memberikan roti itu. Demikian manakala ada sebiji kurma di tangannya, Aisyah tak ragu untuk memberi kepada siapa yang lebih membutuhkan.

Sangat memperhatikan masalah jilbab. Aisyah sangat memperhatikan masalah hijab dan jilbab. Walau di depan seorang yang buta sekalipun bahkan di depan orang yang sudah mati (kuburan), Aisyah tetap menjaga komitmen ini.
Di depan seorang tabi’i buta Ishak, Aisyah menjawab ketika ditanya apakah ia berjilbab, “meskipun engkau tidak melihatku, aku bisa melihatmu.” Katanya.

Keutamaan Ummu Salamah

Ummu Salamah adalah salah satu istri Rasulullah dan memiliki nama asli Hindun. Ia terlahir dari pasangan Hudzifah Abi Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi (seorang dermawan yang suka memberi bantuan bekal kepada musafir hingga mendapat julukan zad al-rakbi) dan Atikah bin amir bin rabiah dari kalangan yang bagus nasabnya. Selain mendapat gelar Ummul mukminin, ia juga disebut al-Sayyidah, al-Muhajjibah, al-Thahirah.

Sosok yang memiliki paras cantik ini adalah termasuk sahabat wanita yang pertama kali hijrah ke Habasyah dan Madinah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia telah menikah dengan Abi Salamah bin abdul asad al-makhzumi, pria shaleh yang menjadi saudara Nabi dan dikaruniai putra yang juga tergolong sahabat nabi, yaitu: Umar, Salamah, durrah dan Zainab.
Ummu Salamah adalah seorang wanita yang baik dan menjaga kehormatan diri. Ia memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah. Anak-anaknya dididik di rumah nabi. Pernikahannya dengan Nabi memiliki hikmah yang agung. Saat ia tengah sendiri setelah wafanya Abu Salamah. Tak memiliki keluarga dan pelindung. Ia dan suaminya adalah seorang yang berjuang untuk dakwah dengan segala yang mereka miliki, baik harta maupun jiwa. Pernikahannya dengan Nabi adalah pengganti dari semua kebaikan yang hilang darinya. Selain itu, Ummu Salamah terkenal begitu bertakwa dan wara’. Di antara buktinya adalah ia punya kebiasaan banyakistighfar.

Write A Comment