Assallamuallaikum berikut adalah notulensi dari Kajian Online Hijabers Community dengan tema Jauhi Virus Dekatkan Dengan Yang Serius, sebuah hal menarik tentang cinta menjadi pertanyaan bahwa Apakah itu cinta? Apakah cinta itu sebetulnya? Apakah yang membuat kita selalui terbayang akan wajahnya? Apakah cinta membuat kita tidak bisa tidur karena selalu ingin bersamanya dan mengingatnya? Apakah cinta yang tulus yang akan memberikan semua hal kita miliki? Apakah Cinta itu seperti yang diucapan Dilan kepada Milea “Milea Kamu Cantik Tapi aku belum mencintaimu, Engga tau kalo sore tunggu aja ?

Secara rupa bisa jadi dia adalah yang sempura tetapi bisa jadi dia bukan untuk kita, kalau kita menunggu untuk menjadi cinta apakah bisa? Cinta itu adalah sebuah takdir, cinta yang kita ungkapkan hanya bisa dimunculkan melalui kata-kata kita saja.

Sebelum mencari tahu apa itu cinta, mari kita fahami dahulu mengenai hakikat manusia.

sungguhnya manusia memiliki 2 hal yaitu Ruh dan Jasad

Ruh itu adalah urusan Allah seperti pada QS Al-Isra ayat 85, Allah berfirman : Wa yas`alụnaka ‘anir-rụḥ, qulir-rụḥu min amri rabbī wa mā ụtītum minal-‘ilmi illā qalīlā artinya Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.

Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Sementara jasad adalah fisik atau badan manusia. Sehingga manusia adalah ruh yang dititipkan pada jasad.

Jasad memiliki 2 spesifikasi yaitu Hajatul Adawiyah (Kebutuhan Jasmani) dan Gharizah (Naluri).

  • Hajatul Adawiyah (Kebutuhan Jasmani) adalah kebutuhan yang bersumber dari internal tubuh manusia seperti makan, minum, istrahat, tidur, kebutuhan sex dan kesehatan jasmani lainnya.
  • Gharizah (Naluri) adalah kebutuhan yang akan di drive dan bangkit atas stimulan luar diri manusia.
    • Gharizah terdiri dari 3 Jenis, yaitu :
      • Gharizah al-Baqa
        Naluri untuk menyikapi emosi atas semua takdir yang terjadi dan merupakan naluri yang mendorong manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Islam mengarahkan agar dalam memperoleh harta dengan cara yang baik (thayyib) dan benar (halal), tidak melakukan korupsi dan cara-cara yang haram, tidak boleh mencuri ataupun membunuh jiwa, bahkan membunuh satu jiwa dianggap sama dengan membunuh seluruh manusia. Semua aturan ini dimaksudkan agar manusia tenang dan tentram dalam menjalani kehidupannya.
      • Gharizah Tadayyun
        Naluri ingin dilindungi, merasa lemah dan membutuhkan kepada yang lainnya. Tentu dalam hal ini hanya Allah tempat manusia memohon dan meminta pertolongan, tempat bergantung dan berlindung dan satu-satunya tempat harap tanpa rasa kecewa.
      • Gharizah An-Nau
        Naluri untuk mencintai dan rasa senang pada yang lain lawan jenis. Islam mengajarkan untuk mencintainya dengan cara yang mulia dan gentle yaitu melalui jalan pernikahan dan melarang tegas memenuhinya dengan cara-cara yang tidak baik, tidak bertanggungjawab seperti zina ataupun selingkuh.

Apakah Gharizah An-Nau atau Naluri kasih sayang itu Cinta?
Bukan. Itu hanya nafsu, semua naluri-naluri tersebut adalah nafsu yang memang sudah ada dalam diri manusia.

Lalu apa itu cinta?
Cinta dalam Bahasa arab حب (Hubb) sedangkan dalam Alquran berarti benih.
Cinta ibarat benih dari sebutir benih yang ditanam akan muncul akar yang lebat dan tumbuh sebuah pohon dan jika dirawat dengan baik akan menjadi pohon yang besar dan semakin membesar yang mana buah dari pohon itu akan menjadi manfaat untuk orang lain. Begitupun dengan Cinta. Jika kita mencintai maka timbul rasa ingin merawat dan membuat orang yang dicintai tumbuh menjadi orang yang lebih baik sehingga tatkala menjadi baik, baiknya itu bukan hanya untuk kita tetapi juga untuk orang lain.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menganalogikan kalimat iman, yang merupakan sebaik-baik kalimat dengan pohon yang merupakan sebaik-baik pohon, yang mempunyai ciri-ciri mulia; akarnya (menancap) kokoh dan kuat (ke dalam tanah), pertumbuhannya berkesinambungan dan buah-buahnya (yang manis) senantiasa ada di setiap waktu dan musim untuk memberikan berbagai macam manfaat dan hasil yang baik bagi pemiliknya maupun orang lain.”
Parameter iman adalah seberapa dia bermanfaat atas sekelilingnya. Ketika Allah mencintai kita dengan iman yang kita miliki secara tidak langsung kita menjadi orang yang jauh lebih bermanfaat untuk orang lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Sehingga jika seseorang mencintai kita maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik, dijaga dan dirawat dengan baik pula karena impact cinta itu adalah menjadi diri yang lebih baik, contoh cinta orang tua. Setiap orang tua pasti membesarkan anaknya dengan menjaga, merawat dan membimbing sebaik mungkin agar anaknya menjadi orang yang baik.
Lalu bagaimanakah pembuktian cinta? apakah cinta cukup hanya gombalan dan rayuan semata? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لم ير للمتحا بين مثل النكاح

“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan” [HR. Ibnu Majah no. 1847, As- silsilah As-shahihah no. 624]

Pembuktian cinta terbaik tentu adalah pernikahan karena bisa saja sebelum adanya pernikahan yang dilakukan hanyalah nafsu yang mana bisa menimbulkan dosa bagi keduanya. Islam mengajarkan untuk pendekatan sebelum pernikahan melalui ta’aruf karena yang harusnya dibahas langsung mengenai visi misi pernikahan bukan adu rayu dan candaan. Persepsi mengenai “cinta dulu baru menikah” pun itu salah karena cinta baru akan ada ketika setelah menikah dan setelah ada rasa keterbiasaan.

Akan tetapi cinta kepada makhluk tidak boleh melebihi cinta kepada Allah bahkan cinta kepada makhluk harus dilandasi karena Allah, karena jika mencintai karena Allah bagaimanapun kondisi dan perilaku pasangan kita itu tidak akan merubah rasa cinta kita karena kita mencintainya karena Allah.
Dalam QS. At Taubah [9]: 24 Allah berfirman :

قُلۡ اِنۡ کَانَ اٰبَآؤُکُمۡ وَ اَبۡنَآؤُکُمۡ وَ اِخۡوَانُکُمۡ وَ اَزۡوَاجُکُمۡ وَ عَشِیۡرَتُکُمۡ وَ اَمۡوَالُۨ اقۡتَرَفۡتُمُوۡہَا وَ تِجَارَۃٌ تَخۡشَوۡنَ کَسَادَہَا وَ مَسٰکِنُ تَرۡضَوۡنَہَاۤ اَحَبَّ اِلَیۡکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ جِہَادٍ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ فَتَرَبَّصُوۡا حَتّٰی یَاۡتِیَ اللّٰہُ بِاَمۡرِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ

Artinya :

“Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Serta Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

Artinya :

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.”

Allah menginginkan kita mencintai Allah dan rosulnya lebih dari apapun termasuk orang tua maupun pasangan kita. Karena dengan kita mencintai Allah lebih dulu maka Allah akan tunjukan jalan cinta yang lebih indah.
Dalam riwayat Muslim dikisahkan seorang sahabat Ummu Sulaim yang dengan cintanya kepada Allah menjadikannya sabar ketika putranya meninggal.

Disebutkan Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144).

Kisah tersebut menceritakan bahwa jika cinta sudah karena Allah apapun yang terjadi akan dilalui dengan sabar dan ikhlas karena sadar bahwa badan dan fisik yang ada pada manusia adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
Dialah Zat sang Rahman dan Rahim yang maha baik dan maha pengampun. Dengan mudahnya Allah memberikan segala hal yang kita minta namun dengan mudahnya pula kita memuja selain darinya. Allah mencintai hambanya sedangkan kita hamba yang tidak apa-apanya lebih mencitai makhluk yang diciptakannya, bukankah sungguh keterlaluan perilaku kita sebagai manusia?

Manusia tempat salah dan lupa serta tumpukan kecewa tapi masih saja berharap kepada makhluk lainnya walaupun tahu berujung tak berdaya. Lupa bahwa Allah maha segalanya pemilik semua yang kita punya dan hanya padanyalah harusnya letak semua asa dan cinta.

 

Penulis :
Rossa Pertiwi

Write A Comment